Bertualanglah dalam damai saudaraku

alm Fadhlih Akbar, foto oleh tulus Wichaksono

Menjadikan detik demi detik hidup gue lebih berarti, bukan menantang maut, tetapi menghargai arti sebuah kehidupan. Seekor singa tidak selamanya menjadi raja hutan, ada saatnya dia dimakan burung pemakan bangkai (alm Fadhlih akbar, 2010)

Buku kecil ini lama sudah tidak saya buka, debu sudah mulai mencoklatkan cover hijau buku ini, di lembar kedua terpampang jelas fotonya, rambutnya masih pendek,tak sepanjang seperti terakhir ketika kami bertemu, kumisnya masih terlihat tipis, separuh lebih tipis dibanding lebat janggut panjang yang menggantung di bawah dagunya, sorot matanya tajam dan makin terlihat gagah dengan jas almamater yang di pakainya. Sekarang sudah bulan ke sembilan, Tak henti kepiluan ini ketika saya teringat saat gurauan terakhir dengannya, dua malam sebelum dia pergi.

Fadhlih merupakan salah satu teman terbaik saya, kebetulan kami sama-sama penggiat telusur gua di mapagama, pembawaanya yang ceria dan suka berbagi dengan siapapun membuat dirinya mempunyai banyak teman, tidak di jogja tidak pula di jakarta tempatnya dilahirkan, di tiap tanah yang pernah di pijaknya saya yakin dia pasti mempunyai kenalan baik. Bagi saya fadhlih merupakan orang yang sangat baik, berpegang teguh dengan nilai persaudaraan yang selalu dia genggam erat, berkali-kali di sekian kesempatan dia selalu berujar “buat gue nilai persaudaraan itu sakral” sebuah kalimat yang selalu membuat saya semakin memaknai lebih nilai dari sebuah persaudaraan.

Bukankah  Tuhan selalu tahu yang terbaik untuk hambanya, termasuk untuk orang sebaik fadhlih, kecelakaan saat berarung jeram di sungai elo magelang tanggal 22 mei 2011 membuat fadhlih harus lebih cepat pergi dari kami, tali lempar yang di bawanya tersangkut di sebuah batu di salah satu jeram di sungai itu, derasnya arus sungai membuat pelampung yang di kenakannyapun tak mampu lagi menahan tubuhnya di permukaan, syahdan fadhlih meninggal dunia karena tenggelam hari itu.

Fadhlih tidak sendiri, bersamanya di surga banyak petualang petualang hebat lainnya, dan mungkin sekarang fadhlih sudah bertemu dengan salah satu petualang yang paling dia kagumi, Soe Hok Gie. Bersama mereka pula sudah bergabung petualang-petualang yang harus melepas nyawa di lapangan selama februari.

Februari, adalah bulan dimana cuaca di lapangan tidak selalu bersahabat, di tahun 2012 sekarang ini 3 petualang lain harus juga harus melepas nyawa di lapangan, 2 diantaranya ketika sedang berada di gunung dan seorang lainnya ketika berarung jeram. Di bulan ini pula 11 tahun yang lalu 5 orang senior saya mengalami hal yang sama, menjemput ajal ketika sedang bertualang. Badai sepuluh tahunan membuat puncak gunung Slamet tak bersahabat ,matahari urung bersinar dalam beberapa hari, angin bertiup sekencang-kencangnya, kabut menghalang mata untuk memandang semakin jauh.

Bagi saya bertualang bukanlah media mendeketkan diri pada kematian atau untuk menyerahkan nyawa, namun bertualang adalah salah satu cara bagaimana kita agar bisa semakin bersyukur atas nikmat dan kuasa-Nya, Tanpa bertualangpun kita pasti akan kembali ke kehidupan yang lebih kekal nantinya. Mungkin benar kata soe hok gie, dalam sebuah bait di puisi terakhirnya dia menyebut orang yang bernasib baik adalah orang yang mati muda setelah orang yang tak pernah di lahirkan ke dunia. Fadhlih dan banyak petualang hebat lain mungkin bisa di kategorikan bernasib baik menurut versi puisi soe hok gie ini, namun realitanya adalah kami yang di tinggalkan disini menjadi orang-orang yang sangat tidak beruntung, karena kebaikan dan kesederhanaan yang diperlihatkan petualang layaknya fadhlih tidak bisa kami rasakan lagi. Sebagai mana fadhlih pernah berujar di akun facebooknya, “saya bukan orang yang suka menantang maut, tetapi saya hanya ingin tiap detik dalam hidup saya memilik arti”

Tanah kuburanmu bisa saja sudah kering, tapi hati ini masih merasakan basahnya air mata kami seiring kepergian kalian saudara-saudaraku. fadhlih , masrukhi, fauzan, iis, bergas, dodo dan semua petualang lain yang mati sebagai seorang petualang serta seorang pemberani dan  bertualangah dalam damai saudaraku.

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply